Image
By Administrator

DRONE PESAWAT PENGINDERAAN DI LOKASI BENCANA

Selasa, 13 Desember 2016; |  Jam 14:16:20 WIB  |  0 comments

Seiring perkembangan waktu, teknologi juga semakin canggih. Berbagai teknologi telah banyak dimanfaatkan dalam penanggulangan bencana, seperti digital maupun peralatan. Salah satu teknologi tersebut adalah pesawat tanpa awak atau pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Pesawat UAV atau lebih dikenal dengan drone dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh seorang pilot. Melalui teknologi ini, penginderaan suatu wilayah dapat dilakukan dengan biaya yang jauh lebih murah.

Pesawat UAV memiliki dua sistem pengendalian. Pertama, pesawat yang dikendalikan secara manual oleh pilot dari jarak jauh dengan menggunakan sistem radio control. Berikutnya dengan sistem otomatis, yaitu jalur atau area terbang yang telah ditentukan sebelumnya.

Teknologi drone yang menggunakan hukum aerodinamika seperti layaknya pesawat terbang awal mula dimanfaatkan sebagai peralatan militer. Militer menggunakan drone untuk pengintaian dan penyerangan. Namun penggunaan lain telah memberikan manfaat dalam penanggulangan bencana.

Karena manfaat dalam penanggulangan bencana, BNPB memiliki beberapa jenis drone yang mampu digunakan untuk prabencana, saat, dan pascabencana. Drone tersebut berjenis quad-copter a ta u berbaling-baling dan fixedwings atau bersayap. Drone yang dimiliki bernama Aeryon Skyranger, Trimbel UX5, dan Delair Tech #18. Masing-masing tipe drone tersebut berkemampuan berbeda. Drone Aeryon Skyranger mampu terbang pada ketinggian jelajah 1.500 kaki diatas permukaan tanah dengan durasi terbang kurang lebih 50 menit. Kamera yang terpasang pada drone ini merupakan kamera real visible dan inframerah. Drone jenis ini tidak membutuhkan landasan yang besar. Dibandingkan jenis Aeryon Skyranger dan Trimbel, drone Delair Tech#18 bertipe fixed-wings mampu terbang lebih lama, sekitar 100 menit. Teknologi drone dengan pilot otomatis ini mampu terbang dengan jelajah 100 km dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Apa saja manfaat memiliki drone tersebut? Sebagai fungsi penginderaan jarak jauh, drone dengan kamera beresolusi tinggi dapat memotret cakupan wilayah yang terdampak bencana. Melalui potretan tadi, kerusakan infrastruktur seperti jembatan, bangunan, dan jalan dapat terdeteksi. Tidak hanya memindai kerusakan, tetapi juga kontur wilayah, kondisi lingkungan pasca bencana atau terkait dengan kawasan rawan bencana di sekitar gunungapi. Melalui data visual hasil pemindaian, tingkat dan jumlah kerusakan dapat diketahui secara cepat sehingga membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pengoperasian Drone di Medan Bencana

Satu sisi yang harus diperhatikan dalam pengoperasian drone adalah perijinan dan peraturan dari lembaga yang berwenang, yaitu Kementerian Perhubungan. Peraturan mengenai drone ini antara lain tertuang pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 90 Tahun 2015 Tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia. Untuk kepentingan survei dan pemetaan oleh lembaga pemerintah, drone tetap mengantongi ijin terbang terlebih dahulu apabila ketinggian mencapai lebih dari 500 kaki (150 m). Di samping peraturan tadi, pengoperasian drone juga harus dilakukan oleh pilot yang telah memiliki lisensi khusus. Lisensi tersebut dikeluarkan oleh pihak penyedia drone yang bertugas untuk melatih dengan durasi waktu tertentu

Tags:  Berita |539|

0 komentar pada artikel ini

    Isi Komentar